UPDATE COVID-19 INDONESIA

Makalah Agama Hindu "Jaina"



MAKALAH
AGAMA HINDU

“J a i n a ”



O l e h :



Made Purwanto
Kelas : X. IPS1


SMA NEGERI 1 LADONGI
TAHUN PELAJARAN 2019/2020



KATA PENGANTAR


Om swastyastu

Puji syukur kami haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa atas Asungkerta Waranugraha-Nya, tugas makalah Agama Hindu dengan judul Jaina ini bisa terselesaikan. Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang terkait dalam pembuatan makalah ini, diantaranya, Bapak/Ibu guru sebagai guru pembimbing Pendidikan Agama Hindu, teman-teman dikelas yang telah memberikan kami dukungan, dan semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu yang terkait dalam menyediakan sarana dan prasarana guna mempermudah pencarian literatur untuk makalah kami.


Makalah yang kami buat ini sangat jauh dari kesempurnaan, sehingga kritik dan saran bagi pembaca sangat diharapkan guna dijadikan pembelajaran pada pembuatan makalah yang akan datang. Terima kasih atas partisipasi dan perhatian para pembaca, semoga semua isi yang ada dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi bembaca.


Om santi, santi, santi Om.


                                                                                                        Ladongi, Februari 2020




                                                                                                        Penulis



DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Filsafat Jaina............................................................................. 2
2.2 Sejarah Filsafat Jaina.................................................................................. 2
2.3 Simbol Agama Jaina................................................................................... 3
2.4 Tempat Ibadah Agama Jaina....................................................................... 3
2.5 Ketuhanan Menurut Jaina........................................................................... 4
2.6 Alam Semesta Ajaran Jaina........................................................................ 4

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................. 5
B. Saran........................................................................................................... 5

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Di India ada Sembilan aliran filsafat yang semuanya memiliki konsep yang berbedadalam mencapai tujuan akhir. Tujuan akhir yang ingin dicapai ialah kelepasan ataukebahagiaan yang tertinggi. Kesembilan aliran filsafat itu dibagi atas dua kelompok yaitu Astika dan Nastika. Kelompok Astika adalah kelompok filsafat yang mengakui kewenangan atau otoritas dari Veda. 

Sedangkan kelompok Nastika adalah kelompok filsafat yang tidak mengakuikewenangan atau otoritas Veda. Kelompok Astika sering pula disebut kelompok orthodok dan theis, maka dalam hubungannya dengan agama Hindu kelompok Astika diakui sebagai ajaran filsafat Hindu. Akan tetapi, kelompok Nastika atau yang sering disebut dengan kelompok heterodoks dan atheis karena tidak mengakui kewenangan Veda, maka kelompok ini tidak termasuk kedalam sebutan filsafat Hindu.

1.2 Rumusan Masalah
  1. Apa Pengertian Filsafat Jaina?
  2. Bagaimanakah Sejarah Filsafat Jaina?
  3. Bagaimanakah Simbol Agama Jaina?
  4. Bagaimanakah Tempat Ibadah Agama Jaina?
  5. Apa Konsep Ketuhanan Menurut Jaina?
  6. Apa Konsep Alam Semesta Ajaran Jaina?
1.3 Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui Pengertian Filsafat Jaina
  2. Untuk mengetahui Sejarah Filsafat Jaina
  3. Untuk mengetahui Simbol Agama Jaina
  4. Untuk mengetahui Tempat Ibadah Agama Jaina
  5. Untuk mengetahui Konsep Ketuhanan Menurut Jaina
  6. Untuk mengetahui Konsep Alam Semesta Ajaran Jaina




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Filsafat Jaina.

Filsafat Jaina di golongkan kedalam kelompok Nastika ( Heterodok ), mengakui empat aspek kebenaran yaitu : Atman, Karma, Punarbhawa, dan Moksa. Filsafat Jaina bersifat Atheis, namun mengakui jiwa-jiwa yang bebas disebut dengan Sidhas, menekankan pada ajaran Ahimsa Karma. Jaina selain sebagai filsafat juga merupakan agama, yang masih ada namun pengikutnya yang cenderung sedikit. 

Jaina didirikan sebagai gerakan yang memprotes pelaksanaan ritual yang berlebihan dan menekankan pada etika terutama komitmennya terhadap konsep Ahimsa. Kitab suci Jaina diambil dari pidato-pidato, pesan-pesan keagamaan Mahavira diterima para murid secara generatif atau lisan. Pada abad ke 4 Sebelum Masehi diadakan pertemuan untuk mengumpulkan sumber-sumber ajaran Jaina, namun muncul perbedaan pemikiran.

Bahasa yang dipakai dalam kepustakaan Jaina adalah Bahasa Ardha Majdi, yang kemudian diganti kedalam Bahasa Sansekerta. Jaina memiliki tujuan diantaranya : 1). Sebagai gerakan yang memprotes pelaksanaan ritual yang berlebihan dan menekankan pada etika terutama komitmennya pada ahimsa. 2). Adanya peraturan kasta yang disusun oleh golongan Brahmana. 3). Peraturan tersebut memberi keuntungan kepada golongan Brahmana akibatnya timbul gerakan sewenang-wenang dari golongan Brahmana. 4). Kesewenangan ini ditentang kaum ksatria, mesti timbul pergolakan.

2.2 Sejarah Filsafat Jaina.

Asal mula ajaran ini diperkirakan sudah ada pada zaman prasejarah india, Jainisme dalah sebuah agama dharma. Jaina bermakna penaklukan. Agama Jaina bermakna agama penaklukan. Dimaksudkan penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi. 

Agama Jaina itu dibangun oleh Nataputta Vardhamana, hidup pada 559-527 sM yang beroleh panggilan Mahavira yang berarti pahlawan besar. Orang-orang pengikut jaina `Jainisme` mempercayai dengan adanya 24 Tirthankkara atau pendiri keyakinan dari mana keyakinan dan agama jaina diturunkan dan berkembang. 

Menurut tradisi jaina, Tirthangkara pertama adalah Rsabhadeva yang merupakan pendiri jainisme dan terakhir adalah mahavira, pahlawan spiritual besar yang namanya juga adalah “vardhamana”. Mahavira, nabi terakhir tidak bisa dipandang sebagai pendiri, karena sebelum beliau ajaran-ajaran jaina telah ada. Tetapi mahavira memberikan orientasi baru sehingga jaina moderen menganggap ajaran jaina berasal dari mahavira. Ia hidup pada abad ke enam sebelum masehi se-zaman dengan budha.

Ajaran ini menekankan aspek etika yang sangat ketat, terutama komitmennya terhadap konsep ahimsa. Di katakan oleh para sarjana, konsep ahimsa inilah yang banyak mempengaruhi ajaran-ajaran berikutnya, seperti Buddha, bhagadgita, dan sebagainya. Menurut tradisi jaina, garis perguruan yang sangat panjang sejak zaman pra-sejarah diturunkan dimana keyakinan ajaran ini diteruskan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Guru-guru yang telah meneruskan ajaran-ajaran jaina ini berjumlah dua puluh empat orang, yang disebut Tirthangkara atau penyebar keyakinan dan yang telah mendapat pencerahan.

2.3 Simbol Agama Jaina

Secara garis besar, simbol Jain didefinisikan sebagai alam semesta (Lok). Bagian bawah simbol mewakili tujuh neraka (Naraki). Bagian tengah alam semesta berisi Bumi dan planet-planet (Manushyalok). Bagian atas berisi tempat tinggal surgawi (Devlok) dari semua makhluk surgawi dan tempat tinggal para Siddha (Siddhashila). Jain percaya bahwa alam semesta ini tidak diciptakan oleh siapapun, juga tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun.

Tangan diangkat berarti berhenti. Kata di pusat roda adalah “Ahimsa”. Ahimsa berarti non-kekerasan. Mereka mengingatkan kita untuk berhenti sejenak dan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu. Ini memberi kita kesempatan untuk memeriksa kegiatan-kegiatan kami untuk memastikan bahwa mereka tidak akan menyakiti siapa pun dengan kata-kata, pikiran, atau tindakan. 

Kami juga tidak seharusnya meminta atau mendorong orang lain untuk mengambil bagian dalam kegiatan berbahaya. Roda di tangan menunjukkan bahwa jika kita tidak berhati-hati dan mengabaikan peringatan ini dan melakukan kegiatan kekerasan, maka hanya saat roda berjalan berputar-putar, kita akan berputar-putar melalui siklus kelahiran dan kematian.

Empat lengan swastika mengingatkan kita bahwa selama siklus kelahiran dan kematian kita mungkin lahir menjadi salah satu dari empat nasib: makhluk surgawi, manusia, binatang-binatang, (termasuk burung, bug, dan tanaman) dan makhluk neraka. Tujuan kami harus pembebasan dan tidak kelahiran kembali. Untuk menunjukkan bagaimana kita bisa melakukan ini, swastika mengingatkan kita bahwa kita harus menjadi pilar dari empat kali lipat Jain Sangh, maka hanya bisa kita mencapai pembebasan.Keempat pilar Jain Sangh adalah Sadhu, sädhvis, shrävaks, dan shrävikäs. 

Ini berarti bahwa pertama, kita harus berusaha untuk menjadi shrävaks benar atau shrävikäs, dan ketika kita dapat mengatasi lampiran sosial kita, kita harus meninggalkan kehidupan duniawi dan mengikuti jalan yang sadhu atau Sadhvi dibebaskan. Tiga titik di atas swastika mewakili tiga permata dari Jainisme: Samyak Darshan (Iman Kanan), Samyak Jnan (Pengetahuan Kanan), dan Samyak Charitra (Perilaku Kanan). 

Kita harus memiliki ketiga permata tersebut: pengetahuan yang benar, iman yang benar, dan tepat melakukan bersama-sama, maka kita dapat mencapai pembebasan. Pengetahuan yang benar berarti memiliki pengetahuan bahwa jiwa dan tubuh terpisah dan jiwa, bukan tubuh mencapai keselamatan. Iman yang benar berarti seseorang harus memiliki iman dalam apa yang diceritakan oleh Jina, yang mahatahu. Pelaksanaan yang tepat berarti bahwa tindakan kita harus menjauhi keterikatan dan kebencian.

2.4 Tempat Ibadah Agama Jaina

Ada beberapa kuil Jain yang indah di India, meskipun sebagian besar struktur kuil Jain lebih terstruktur. Kuil Jain memuat gambar Tirthankara, baik dalam posisi sedang bermeditasi duduk atau berdiri. Sebuah gambar Tirthankara yang sedang duduk biasanya menjadi fokus interior kuil. Umat Jain membuat persembahan kepada gambar sebagai bagian dari ibadah mereka. Kuil Jain bervariasi, dari yang sangat besar dan rumit, hingga yang sederhana. Kedua sekte Jain terbesar menghias kuil mereka dengan cara yang berbeda:

Svatembara; Dalam candi Jain Svatembara selalu dihiasi dengan gambar yang dicat matanya dengan ornamen emas, perak, dan permata di dahi. Selain itu, mereka juga memberikan persembahan berupa dekoratif bunga, daun, cendana, kunyit, kapur barus, daun, emas atau perak, mutiara, batu mulia, atau perhiasan kostum (seperti dalam festival).

Kuil Jain yang berada di jalan lintas kota, banyak umat yang datang seperti yang mereka lakukan setiap hari, untuk doa pagi dan puja, setelah mandi dan didandani dengan pakaian putih bersih, dan beberapa orang menggunakan masker, yang tujuannya untuk menghormati prinsip mereka, Ahimsa, yang digunakan untuk mencegah kerugian makhluk hidup di udara karena napas mereka.

2.5 Konsep Ketuhanan Menurut Jaina.

Sebagai paham yang bebas dari kekuasaan Veda, Jaina juga merupakan sejenis gerakan keagamaan yang menentang agama Hindu dan memberontak atas kekuasaan kaumBrahmana. Atas dasar ini Jaina memandang Tuhan bukan roh Yang Maha Agung. Fahamnya dikatakan sebagai agama Iihad (tidak mempercayai Tuhan), namun percaya pada roh-roh yang telah terbebaskan (Sidas). Mereka itu adalah roh para Thirthankara. 

Jaina tidak menerima bukti-bukti perwujudan Tuhan sebagai mana agama Hindu mewujudkannya, yang diakuinya hanyalah roh para Thirthankara. Kondisi ini memunculkan kepentingan-kepentingan negatif seperti kepercayaan korban dalam ritual seperti agama Hindu lakukan, tidak mau mengklaim keistimewaan dan kelebihan kaum Brahmana seperti yang diklaim agama Hindu.

2.6 Konsep Alam Semesta Ajaran Jaina.


Jain percaya bahwa alam semesta kita dan hukum-hukum alam yang abadi, tanpa awal atau akhir. Namun, terus-menerus mengalami perubahan siklus. alam semesta kami ditempati oleh makhluk hidup (jiva) dan objek non-hidup (Ajiva). samsarin (duniawi atau biasa) jiwa menjelma dalam berbagai bentuk kehidupan selama perjalanan dari waktu ke waktu. Manusia, sub-manusia (hewan, serangga, tanaman, dll), super-manusia (surgawi), dan neraka-yang adalah empat bentuk makro dari jiwa samsari. 

Suatu makhluk hidup yang pikiran, ekspresi dan tindakan dilaksanakan dengan maksud lampiran dan penolakan, menimbulkan akumulasi karma. Influxes ini karma pada gilirannya memberikan kontribusi untuk menentukan keadaan masa depan kita yang baik bermanfaat dan menghukum.



BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kelompok Nastika adalah kelompok filsafat yang tidak mengakuikewenangan atau otoritas Veda. Kelompok Astika sering pula disebut kelompok orthodok dan theis, maka dalam hubungannya dengan agama Hindu kelompok Astika diakui sebagai ajaran filsafat Hindu. Akan tetapi, kelompok Nastika atau yang sering disebut dengan kelompok heterodoks dan atheis karena tidak mengakui kewenangan Veda, maka kelompok ini tidak termasuk kedalam sebutan filsafat Hindu.

Kelompok Nastika terdiri dari Buddha, Carwaka dan Jaina. Namun dimakalah ini yang akan dibahas ialah Carwaka dan Jaina. Jainisme adalah salah satu ajaran paham jaina di india, yang golongkan ke dalam nastika (heterodoks) karena tidak mengakui otoritas veda. Tradisi yang dikembangkan adalah heterodoks , atheisme namun spiritual. 

Jaina merupakan sebuah agama minoritas, yang masih hidup hingga saat ini di india. Carvaka mengajarkan tentang kenikmatan indrawi yang merupakan tujuan tertinggi hidup. Carvaka juga berarti seseorang yang materialis yang mempercayai manusia terbentuk dari materi, dan tidak mempercayai adanya Atman dan Tuhan.

3.2. Saran

Demikian makalah ini kami sajikan, kami sangat mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan makalah-makalah berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA

http://enikustirahayu.blogspot.com/2018/12/makalah-agama-carwaka-dan-jaina.html

Belum ada Komentar untuk "Makalah Agama Hindu "Jaina""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel